iklan

Gara Gara Uang Rokok Puncak Hoza Di Tutup

Puncak Hoza, salah satu tujuan wisata di Desa Kampung Yaman Aek Natas Labuhanbatu Utara balasannya harus tutup lantaran "uang rokok".  Puncak Hoza ialah salah satu daerah wisata yang mengadopsi spot-spot ibarat di Bukit Mojo Gumelem, Jogja.  Lokasi ini di kenal pula dengan Puncak Pamingke, Bukit Gundul, Puncak Padang Lompong, Bukit Kampung Yaman atau Bukit Telkom.
 salah satu tujuan wisata di Desa Kampung Yaman Aek Natas Labuhanbatu Utara balasannya harus Gara Gara Uang Rokok Puncak Hoza di Tutup
Puncak Hoza tutup

Objek wisata dengan menghadirkan spot-spot selfie belakangan memang cukup ramai di hadirkan. Tidak hanya relatif murah meriah, tujuan wisata ibarat ini juga di sebut kekinian atau sesuai dengan selera anak muda yang umumnya memang hobi berselfi. Di Kalimantan Selatan, tujuan rekreasi ibarat ini juga ada di kota Kandangan, tepatnya di Bukit Halinjuangan dan Puncak Palawan

Sayangnya sebagai daerah wisata rintisan, banyak faktor dan duduk kasus yang kerap di alami pengelola dalam mengembangkannya, salah satu yang cukup krusial ialah preman dan pungli. Masalah ini pula yang balasannya menciptakan pengelola Puncak Hoza balasannya menutup sementara wahana rekreasi tersebut lantaran belum mendapat solusi atas pungli "uang rokok" yang semakin marak.

Puncak Hoza Resmi ditutup oleh pengelola per tanggal 3 Juli 2017, lantaran permasalahan pelik yang masih belum mendapat win-win solution. Pengumuman resmi yang di bagikan di halaman Laburaku juga menjawab mengapa pengunjung harus merogoh kocek lebih dalam padahal sebelumnya harga tarif masuk masih cukup terjangkau.

Berikut kutipan pengumuman di tutupnya Puncak Hoza di lansir dari halaman Laburaku.
Breaking News

Mulai Besok, 03 juli 2017 Puncak Hoza ditutup
Permohonan maaf disampaikan oleh pihak pengelola Puncak Hoza kepada Laburaku dan seluruh pengunjung lantaran dengan berat hati harus menutup lokasi wisata Puncak Hoza yang lagi hits-hitsnya di Labura, juga mohon maaf atas ketidaknyamanan pengunjung selama di Puncak Hoza.
Permasalahannya bermula dari banyaknya seruan "uang rokok" yang ada.
Setelah itu muncul beberapa permasalahan lahan parkir, hingga pengelola meminta dukungan kepada kepala desa untuk menengahi dan mencari solusi. Belum selesai masalah, muncul lagi pihak yang lain meminta "uang rokok" kepada pengelola.
Hingga balasannya sebelum lebaran pengelola meminta saran bagaimana jikalau dibentuk tiket terusan. LaburaKu mendukung dan membantu menyebarkan design tiketnya. Tiket selesai "uang rokok" semakin ramai, pengelola sangat menyesalkan kutipan thd para pengunjung. Hingga meminta dukungan kembali kepada kepala desa Kampung Yaman. Pengelola dengan berat hati meng iyakan hasil pertemuan, yaitu dua kali sistem pembayaran. Tiket yang tadinya sudah dicetak diambil alih oleh cowok setempat di bawah komando Kades, dan memperkerjakan para cowok setempat untuk ikut sebagai panitia Puncak Hoza. Namun, pihak pengelola diminta kembali melaksanakan pungutan di atas wahana, alasannya ialah tiket dibawah hanya dipakai untuk menggaji para cowok setempat yang ikut bekerja.
Pengelola mengaminkan sembari berfikir bahwa ini akan menjadi lahan kebaikan dengan memberi ruang pekerjaan bagi warga walau harga tiket masuk semakin mahal, pengunjung terpaksa membayar dua kali, di bawah 15.000 untuk tiket masuk lokasi dan parkir, pengelola terpaksa meminta kembali kutipan 15.000 untuk foto di semua wahana.
Sampai disitu, pada lebaran H+2 dan H+3, "uang rokok" pun masih ada kepada pihak pengelola, namun pengelola masih mendapat laba dari omset yang ada. Tetapi H+4 lebaran dan seterusnya omset menurun, tapi "uang rokok" tetap ada.
Ternyata kebijakan pegawapemerintah desa untuk merangkul semua PS dan preman tidak berjalan dengan baik. Karena toh juga mereka meminta uang rokok ke pihak pengelola, padahal mereka sudah mendapat honor atas tugas ikut di panitia. Alhasil pengelola asik membayar "uang rokok" hingga tak lagi mendapat hasil.
H+7 lebaran, pengelola menyampaikan akan menutup Puncak Hoza lantaran tidak tahan dengan banyaknya "uang rokok". Akhirnya pengelola memutuskan menutup sementara Puncak Hoza pada 03 juli 2017 dan akan membongkar seluruh wahana. Puncak Hoza akan dibuka kembali pada agustus nanti, pengelola sedang melaksanakan perbaikan wahana dan management semoga tragedi serupa tidak terulang, semua demi kenyamanan pengunjung. Pengelola juga mengharapkan pemerintah dan dinas terkait mau memperhatikan dan membantu mencari solusi untuk mewujudkan lokasi wisata yang nyaman demi kemajuan Labura.
Sekarang sudah tahu kan mengapa Tiket masuk ke Puncak Hoza mahal???
Sangat disayangkan sekali tragedi ini, potensi yang kita bangkit bersama harus tercederai oleh pihak yang tak sadar dan egois atas keinginannya sendiri. Warga yang berkreasi tak didukung bahkan di gerogoti.
Kami dari LaburaKu mengecam tragedi ini, semoga pihak yang meminta "uang rokok" ini sadar dan diberi hidayah Tuhan Yang Maha Esa.
sumber: pengelola Puncak Hoza.
Mari terus sadar pentingnya kenyamanan pengunjung, pentingnya mendukung potensi yang ada di Labura.
Rencananya, Puncak Hoza akan di buka kembali pada Agustus 2017 mendatang. 



Sumber http://mjumani.blogspot.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Gara Gara Uang Rokok Puncak Hoza Di Tutup"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel